Tampilkan postingan dengan label Arang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Desember 2009

What they say about biochar?

AL GORE - "One of the most exciting new strategies for restoring carbon to depleted soils, and sequestering significant amounts of CO2 for 1,000 years and more, is the use of biochar."

BILL MCKIBBEN - "If you could continually turn a lot of organic material into biochar, you could, over time, reverse the history of the last two hundred years…"

DR. TIM FLANNERY - "Biochar may represent the single most important initiative for humanity's environmental future...."

DR. JAMES LOVELOCK - "There is one way we could save ourselves and that is through the massive burial of charcoal."


From http://unfccc.int/ on the home page that opens, scroll down a bit to Decisions adopted by COP 15 and CMP 5

Look in the right column under CMP, download the PDF named "Further guidance relating to the clean development mechanism"

Paragraph 33 states:

33. Invites interested entities to submit methodologies, considering the current work of the Executive Board and the Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice, on new technologies that have the potential to reduce in net terms the concentration of carbon or carbon dioxide already in the atmosphere.


Biochar sequestration can be considered not merely carbon neutral, but actually a carbon negative strategy, because it results in a net decrease in atmospheric CO2 and other GHGs over long periods. That is, rather than allowing biomass (which removes carbon from the atmosphere to grow) to decompose and re-emit the CO2 or even produce more potent methane under anaerobic conditions, or by being eaten by termites, etc., pyrolysis will sequester the carbon. This will remove circulating CO2 from the atmosphere and store it in virtually permanent soil carbon pools. In addition, the bio-oil produced can be used to displace fossil liquid fuels, further reducing the net emissions of CO2.

Because the agrichar (biochar) does not readily break down, it could sequester for thousands of years nearly all the carbon it contains, rather than releasing it into the atmosphere as GHG carbon dioxide. It is believed that this soil amendment
could boost agricultural productivity through its ability to retain nutrients and moisture. Terra Preta is a highly productive type of soil created in the Amazon jungle of Brazil by pre-Colombian native Indians, by incorporation of charcoal.

Kamis, 10 September 2009

Pengolahan Limbah Biomassa Menjadi Produk-Produk Bermanfaat Bernilai Ekonomi Tinggi


Indonesia sebagai negara tropis kaya akan sumber alam hayati. Berbagai biomassa banyak dijumpai yang dianggap sebagai limbah, sebagai contoh limbah pertanian, perkebunan, hutan dan sebagainya. Pada proses pengolahan sumber daya alam hayati tersebut juga dihasilkan limbah biomassa, sebagai contoh industri penggergajian kayu (sawmill) akan dihasilkan serbuk gergaji, industri penggilingan padi akan dihasilkan sekam, industri CPO (crude palm oil) akan dihasilkan cangkang sawit, tandan kosong dan serabut, industri minyak kelapa akan dihasilkan tempurung kelapa. Industri-industri pengolahan tersebut hampir tersebar pada semua daerah di Indonesia. Hal ini mengingat Indonesia merupakan negara tropis sehingga berbagai komoditas pertanian, perkebunan dan hutan pada semua wilayahnya. Proses penghancuran limbah secara alami berlangsung lambat, sehingga tumpukan limbah dapat menganggu lingkungan sekitarnya dan berdampak terhadap kesehatan manusia. Padahal, melalui pendekatan teknologi, limbah pertanian atau perkebunan tersebut dapat diolah lebih lanjut menjadi bernilai guna dan bernilai ekonomi tinggi.


Limbah-limbah biomassa tersebut jumlahnya sangat melimpah, sehingga berpotensi mencemari lingkungan dan belum dimanfaatkan secara optimal. Luas area hutan Indonesia pada tahun 2005 sebesar 88,50 juta ha, dengan ekspor kayu gergajian pada tahun 2002 sebesar 0,39 juta m3/Cu M, maka limbah berupa sawdust yang dihasilkan akan sangat besar, dan saat ini banyak dibuang ke sungai sehingga mencemari lingkungan sekitar. Sedangkan sekam padi yang komposisinya 20-23% dari gabah. Pada tahun 2009 saja dengan produksi gabah sekitar 63,84 juta ton, maka jumlah sekam yang dihasilkan lebih dari 14,6 juta ton.

Cangkang sawit dan fiber pada pabrik pengolahan kelapa sawit digunakan bahan bakar boiler, tetapi jumlahnya berlebih dan sisanya menjadi limbah. Indonesia sebagai produsen kelapa sawit nomor satu didunia pada tahun 2009 tercatat dengan produksi sekitar 22 juta ton dengan luas lahan 7 juta ha, dengan produktivitas lahan rata-rata 30 ton TBS/ha. Maka produksi kelapa sawit diperkirakan 140 juta ton. Dan cangkang sawit dihasilkan sebesar 9,1 juta ton, dengan sebagian misalnya 50% digunakan sebagai bahan bakar boiler di pabrik, maka limbah cangkang sawit masih sangat besar yakni 4,55 juta ton.

Untuk kelapa, Indonesia memiliki 3,712 juta hektar (31,4% luas kebun kelapa dunia) dan merupakan perkebunan kelapa terbesar di dunia. Dengan produksi kelapanya menduduki urutan no. 2 setelah Filipina, dengan produksi 12,915 milyar butir (24,4% produksi dunia). Dengan berat sebuah kelapa rata-rata 1,5 kg, maka potensi tempurung kelapa Indonesia yaitu 2,3 juta ton/tahun. Dan masih banyak limbah biomassa dari pengolahan limbah-limbah agroindustri yang lain.

Seiring kebutuhan energi yang terus meningkat maka limbah-limbah biomassa tersebut berpotensial digunakan pembangkit energi. Upaya meningkatkan kualitas bahan bakar dari biomassa adalah melalui proses pirolisis. Pirolisis adalah penguraian bahan organik secara termis, yaitu dengan memberikan panas pada bahan organik hingga terdekomposisi. Perbedaan dengan pembakaran biasa adalah pada pirolisis keberadaan oksigen dikontrol atau bahkan ditiadakan. Pirolisis merupakan salah satu metode untuk mengubah biomassa menjadi bahan bakar stabil. Keuntungannya adalah bahan bakar yang dihasilkan tidak menimbulkan asap, bernilai kalor tinggi dan menurunkan biaya transportasi bila dibandingkan dengan biomassa dalam keadaan awalnya.

Kenaikan nilai kalor didapat pada proses pirolisis ini, sebagai contoh arang yang dihasilkan dari pirolisis mempunyai nilai kalor 2 kali nilai kalor kayu bakar pada berat yang sama. Arang dengan komponen penyusun utamanya berupa karbon dapat digunakan sebagai bahan bakar, filter atau penjerap dengan diolah menjadi karbon aktif, pewarna dengan diolah menjadi karbon black, arang briket untuk sumber energi, biochar untuk aplikasi di pertanian dan berbagai kebutuhan industri kimia lainnya. Penggunaan arang yang lain sebagai reduktor sebagaimana halnya coke pada industri logam, karena mengandung karbon bebas yang tinggi (>70%).

Di negara-negara empat musim yang mengalami musim dingin sehingga membutuhkan pemanas ruangan, maka arang dapat digunakan dengan membakarnya pada tungku. Dengan sebelumnya dibriket sehingga memiliki bentuk kompak dan ekonomis untuk transportasi. Kelebihan arang untuk bahan bakar antara lain, tidak berasap, tidak berbau, api tidak memercik, tidak mengandung belerang, nilai kalor yang tinggi dan sisa pembakaran berupa abu yang dapat digunakan sebagai pupuk organik. Penggunaan lain adalah untuk memasak, membakar daging / barbeque, atau sisha, karena tidak merusak citarasa masakan. Untuk transportasi dan distribusi supaya ekonomis maka arang dipadatkan atau ditingkatkan densitasnya dengan cara dibriket.

Selain untuk pasar lokal, hal ini memungkinkan briket untuk memenuhi kebutuhan eksport. Beberapa negara tujuan eksport briket arang dari Indonesia antara lain Eropa, Korea Selatan, Jepang dan negara-negara Timur Tengah. Dengan dibriket maka waktu nyala akan lebih lama dan memiliki volume yang kecil. Pembriketan adalah cara meningkatkan densitas suatu bahan dan sering digunakan perekat untuk membuatnya. Alat berupa hidrolik press maupun ekstruder biasa digunakan untuk membuat briket arang ini. Hal ini tergantung pada bahan baku dan bentuk briket yang diinginkan. Untuk jenis briket yang menggunakan perekat maka pemilihan perekat adalah hal penting karena akan mempengaruhi mutu briketnya. Pengunaan perekat yang tepat membuat briket tidak berbau dan merusak citarasa ketika digunakan, pati adalah bahan perekat yang biasa digunakan sebagai perekat briket.

Aplikasi lain dari arang untuk wilayah pertanian juga tidak kalah menarik. Arang mampu meningkatkan kesuburan tanah, karena sebagai produk yang porous (berpori) akan mampu untuk menahan air dan nutrien tanah dari pencucian. Selain itu arang mengandung mikroelement sebagai nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Arang dicampurkan dengan pupuk organik selanjutnya disterilisasi untuk media tanam, khususnya untuk model pertanian hidroponik. Daerah-daerah padat penduduk seperti perkotaan akan mampu mengembangkan model pertanian modern misalnya untuk menanam sayuran dengan media tanam ini. Hasil akhir dari pertanian berupa perbaikan pertumbuhan dan produktivitas panen telah terbukti dengan mengaplikasikan arang di tanah.

Lehmann, Professor dan Peneliti dari Cornell University dan berbagai tempat didunia telah membuktikan secara ilmiah pengaruh arang terhadap kesuburan tanah. Efek lain penggunaan arang ke dalam tanah adalah untuk mereduksi pemanasan global (global warming), yakni dengan cara mengikat gas rumah kaca dari atmosfer seperti CO2. Pengikatan CO2 ke dalam tanah juga berakibat baik bagi pertumbuhan tanaman. Teknologi untuk mereduksi global warming sedang dikembangkan saat ini dan belum ditemukan teknologi yang efektif dan bisa diaplikasikan secara masal selain menanam arang ke tanah.

Produk samping dari pirolisis –dengan pilihan teknologi kami, menggunakan pirolisis cepat- untuk memproduksi arang sebagai hasil padatnya (core product) adalah syngas dan biooil (side product). Syngas dapat digunakan untuk keperluan sebagai pembangkit listrik di daerah setempat dan biooil banyak digunakan untuk aplikasi energi dan bahan kimia lainnya. Untuk energi biooil bisa digunakan sebagai bahan bakar boiler dengan sedikit ada modifikasi pada burnernya. Sedangkan berbagai penelitian terbaru biooil digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel dan biopolimer. Sedangkan aplikasi yang lebih luas dari biooil juga sedang dikembangkan untuk berbagai industri kimia.

Pengolahan limbah biomassa sebagai produk-produk bernilai ekonomi tinggi akan memiliki banyak keuntungan antara lain mencegah penggundulan hutan, menghemat bahan bakar fossil, mengurangi pencemaran lingkungan, mencegah kelaparan dan memperkuat sektor pangan, mereduksi gas rumah kaca dan menjadi kegiatan produktif bernilai ekonomi dengan mengolah limbah biomassa yang pada awalnya bernilai ekonomi rendah menjadi produk-produk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan kelestarian lingkugan. Dan konsep Zero Waste Activity bisa kita mulai dari sini. JFE menyadari sepenuhnya bisnis adalah market driven activity dan dengan Teknologi Pirolisis Kontinyu, akses pasar yang luas dan didukung lembaga risetnya (basic,applied maupun development research) siap menjadi mitra bisnis Anda untuk mengatasi limbah biomassa dan menjadikannya kegiatan bisnis yang menguntungkan.

Senin, 27 Juli 2009

Teknologi Pirolisis Kontinyu : Solusi Energi Terbarukan Berkelanjutan



Pada beberapa tahun mendatang sektor energi akan menghadapi kompleksitas masalah yang saling terkait antara tantangan perekonomian, geopolitik, teknologi dan lingkungan. Pertambahan penduduk yang terus meningkat di negara-negara berkembang memerlukan pasokan energi yang cukup besar baik bagi kepentingan masyarakat pedesaan maupun masyarakat urban. Konsumsi energi di negara berkembang akan meningkat sebanyak empat kali lebih besar dari kebutuhan energi negara-negara maju. Di negara-negara maju, dorongan pertambahan pemakaian energi terutama disebabkan oleh adanya perubahan gaya hidup dan teknologi masa depan. Sementara pasokan sumber energi konvensional khususnya minyak dan gas bumi akan mulai menurun magnitude-nya. Pada saat ini, 85 persen dari produksi komersial energi masih berbasis bahan bakar fossil. Meskipun peranan bahan bakar fossil masih akan sangat penting, namun pengaruhnya secara berangsur-angsur akan diambil alih oleh sumber-sumber energi baru dan terbarukan (new and renewable resources).



Pernahkah Anda berpikir untuk mengatasi limbah organik, menjadikan lingkungan lebih sehat sehingga menjadi aktivitas yang zero waste dan menjadikannya produk akhir yang bernilai tambah?

Adakah teknologi mampu mengolahnya ?

Selamat datang di JFE Project, yang memberi solusi masalah limbah organik Anda dan akan mengubahnya menjadi produk energi terbarukan berkelanjutan.

Apa saja limbah organik yang bisa kami proses ?

• Limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) –Tandan kosong, serabut, cangkang
• Sampah kota –plastik bernilai ekonomi rendah dan tidak bisa didaur ulang (non recycle dan non-reuseable), ban bekas dan sebagainya
• Limbah Pabrik kopra – tempurung, sabut
• Limbah Pabrik Gula-bagasse
• Limbah Industri Kayu –serbuk gergaji, serpihan kayu
• Limbah biomassa hutan-daun dan ranting-ranting
• Limbah pertanian dan perkebunan –tongkol jagung, kulit kopi
• Pulp Mill Sludge
• Berbagai limbah organik lainnya

Produk yang dihasilkan dari pirolisis kontinyu kami:

• Arang (Biochar)
• Torrified Wood
• Arang Aktif
• Briket Arang
• Biooil
• Syngas

Semua produk bernilai jual tinggi, sangat dibutuhkan dan nilai kemanfaatan yang tinggi.




Bagaimana teknologi pirolisis kontinyu kami melakukannya?

Pirolisis adalah proses mendekomposisi bahan organik menjadi bahan yang stabil dengan menggunakan aplikasi thermal dan hampa udara. Dengan proses pirolisis tersebut bahan baku berupa limbah organik akan terdekomposisi menjadi arang, biooil, dan syngas. Biooil dan syngas potensial untuk pembangkit listrik dan panas yang sangat dibutuhkan oleh proses industri.

Mengapa menggunakan teknologi pirolisis kontinyu ?

Teknologi pirolisis telah mengalami perjalanan yang panjang sejak pertama kali dikenal manusia ribuan tahun yang lalu. Teknologi pirolisis kami –sedang dalam proses paten- dijalankan secara otomatis yang computerized dan mampu mengubah limbah organik tersebut menjadi produk bernilai jual tinggi, mudah dalam pengoperasian, ramah lingkungan dan standar safety yang tinggi. Proses kontinyu membuat ukuran pabrik kami kecil dan bekerja dalam kapasitas menengah hingga besar. Aspek lingkungan menjadi fokus kami terbukti dari level emisi gas buang jauh dibawah ambang batas yang dipersyaratkan dan opasitas 0%.

Komparasi dengan pengolahan limbah saat ini :

• Incinerator . Untuk mengurangi konsentasi limbah organik, incinerator digunakan untuk membakar limbah organik tersebut, selain polusi udara yang ditimbulkan besar, panas proses pembakaran hanya dibuang percuma dan produk akhir yang dihasilkan hanya abu yang nilai ekonomisnya sangat rendah. Cara ini masih banyak dilakukan saat ini seperti di pabrik kelapa sawit dengan membakar tandan kosong dan sabutnya dan pada sampah kota yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ton dan meresahkan masyarakat, ketika pemulung telah melakukan sortasi, sisa limbah organik memang masih bisa dikomposkan, tetapi limbah seperti plastik tertentu yang tidak bernilai jual rendah dan tidak di recycle hanya dibakar atau ditimbun saja. Plastik dan ban-ban bekas yang material dasarnya banyak menggunakan hidrokarbon mengapa tidak dikembalikan menjadi hidrokarbon sebagai bahan bakar, sedangkan krisis energi di depan mata? Incinerator tidak bisa melakukannya.

• Pirolisis Batch. Saat ini banyak pirolisis batch yang prosesnya tidak ramah lingkungan indikasinya antara lain dari warna dan jumlah asap yang ditimbulkan. Selain itu sejumlah proses pirolisis batch menggunakan bahan bakar eksternal secara terus menerus sehingga biaya produksi pirolisisnya besar.

• Pirolisis Kontinyu. Dimensi alat pirolisis kontinyu kami jauh lebih kecil dibandingkan pirolisis batch pada kapasitas produksi yang sama. Bahan bakar hanya misalnya fossil fuel atau LNG dibutuhkan pada awal proses saja, setelah itu proses akan berjalan dengan menggunakan bahan bakar syngas yang dihasilkan, sangat menghemat biaya produksi. Selain itu emisi gas buang yang ramah lingkungan dengan level jauh dibawah ambang batas yang dipersyaratkan adalah keunggulan proses kami. Otomatisasi dan komputerisasi juga telah terintegrasi pada unit pirolisis kontinyu kami sehingga mudah dalam operasional serta dilengkapi standar safety yang tinggi.


Mitra bisnis potensial kami :
1. Industri meliputi antara lain pabrik kelapa sawit, pabrik kertas, pabrik kopra, pabrik pengolahan hasil perkebunan dan kehutanan lainnya.
2. Pemerintah Daerah
3. BUMN terkait

Pasar Produk

Bisnis dimulai dari pasar sama halnya untuk produk yang dihasilkan proses pirolisis ini. Disamping kebutuhan energi yang sangat besar, kebutuhan dunia untuk berbagai sistem filtrasi dan pertanian juga sangat besar. Produk arang digunakan untuk domestik rumah tangga, pemanas ruangan dan industri. Aplikasi lain produk arang adalah untuk memperkaya tanah, seperti berbagai penelitian ilmiah terbaru yakni Terra Preta yang telah diujicoba dan dibuktikan berbagai universitas yang terbukti meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produktivitas panen, silahkan baca lebih lanjut biochar dan link terkait. Biooil dan syngas potensial untuk bahan bakar atau pembangkit listrik atau panas. Indonesia dengan area teraliri listrik baru sekitar 60% akan banyak membutuhkan pasokan listrik terutama daerah-daerah terpencil. Selain sebagai bahan bakar biooil ternyata juga potensial untuk berbagai industri kimia. Sedangkan arang aktif mempunyai aplikasi yang luas untuk system filtrasi dan absorben pada berbagai industri dengan kebutuhan ratusan ribu ton hingga jutaan ton tiap tahunnya. Pencemaran air sehingga terkontaminasi di sejumlah kota besar di dunia juga mendorong kebutuhan arang aktif ini.

Kapasitas Pabrik yang kami tawarkan :
1. 60 ton/hari bahan baku akan dihasilkan arang sekitar 20 ton/hari
2. 200 ton/hari bahan baku akan dihasilkan arang sekitar 60 ton/hari

Kontak Person :
Eko SB Setyawan 081328841805
e-mail : eko.sb.setyawan@gmail.com

Mengubah Limbah Sawit menjadi Tambang Emas


Indonesia adalah negara produsen kelapa sawit nomor satu di dunia, luas arealnya hingga 2009 mencapai lebih dari 7 juta ha, dengan produksi CPO sebesar 22 juta ton. Terhitung ada lebih dari 400 pabrik kelapa sawit (PKS) beroperasi di Indonesia dan akan terus ditambah seiring perluasan kebun kelapa sawit dan memenuhi kebutuahan CPO dunia. Kelapa sawit telah menjadi primadona non-migas yang diunggulkan dan diandalkan pemerintah saat ini dan tahun-tahun mendatang.

Masalah lain yang ditimbulkan pada industri kelapa sawit adalah limbah. Limbah terdiri dari limbah padat dan limbah cair, limbah padat berupa tandan kosong, serabut dan cangkang, sedangkan limbah cair berupa sludge oil. Prosentase tandan kosong adalah 23 persen dari tandan buah segar (TBS), sedangkan cangkang 6,5 persen dan serabut 13 persen. Apabila pabrik kelapa sawit berkapasitas 30 ton TBS/jam, maka akan dihasilkan limbah padat sejumlah tandan kosong 6,9 ton/jam atau 165,6 ton/hari, cangkang 1,95 ton/jam atau 46,8 ton/hari dan serabut 3,9 ton/jam atau 93,6 ton/hari.

Dari sebuah industri kelapa sawit kapasitas sedang saja sudah dihasilkan limbah padat sangat banyak, sehingga akan menjadi masalah serius bagi industri kelapa sawit apabila tidak bisa mengolahnya dengan baik. Saat ini kebun dan pabrik kelapa sawit menghasilkan limbah padat dan cair dalam jumlah besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Serat dan sebagian cangkang sawit biasanya terpakai untuk bahan bakar boiler di pabrik, sedangkan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) biasanya hanya dimanfaatkan sebagai mulsa atau kompos untuk tanaman kelapa sawit. Pemanfaatan dengan cara tersebut hanya menghasilkan nilai tambah yang terendah di dalam rangkaian proses pemanfaatannya.



Paling tidak ada ada tiga faktor yang mendorong produksi arang saat ini, yakni satu situasi energi dunia yang masih sangat bergantung pada fossil fuel, kedua Terra Preta, yakni tanah berwarna gelap di Amazon karena tingginya kandungan karbon yang memiliki kesuburan tinggi dan dibuktikan oleh berbagai penelitian ilmiah sehingga dibuatlah komposisi tanah mendekati Terra Preta, dan terakhir produksi arang diberbagai negara berkembang yang masih menggunakan teknologi ala kadarnya dan kadang merusak kelestarian lingkungan.

Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi telah menghitung potensi energi dari biomassa yang besarnya mencapai 50.000 MW, namun yang sudah dimanfaatkan hanya sebesar 302 MW. Salah satu biomassa yang jumlahnya sangat besar dan belum banyak dimanfaatkan adalah limbah pabrik kelapa sawit (PKS) yang jumlahnya mencapai ribuan ton.Limbah pabrik kelapa sawit sangat melimpah. Saat ini diperkirakan jumlah limbah pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia mencapai 28,7 juta ton limbah cair/tahun dan 15,2 juta ton limbah padat (TKKS)/tahun. Dari limbah tersebut dapat dihasilkan kurang lebih 90 juta m3 syngas. Jumlah ini setara dengan 187,5 milyar ton gas Elpiji. Jumlah syngas ini cukup untuk memenuhi kebutuhan gas satu milyar KK (kepala keluarga) selama satu tahun.Kemudian melalui Kep.Men. No. 1122 K/30/MEM/2002 tentang Distribusi Pembangkit Listrik Skala Kecil, Indonesia mulai mengembangkan energi terbarukan. Tahun 2005 Indonesia mendapatkan bantuan sebesar $ US 500.000 dollar dari ADB (Bank Pembangunan Asia) untuk mengembangkan energi terbarukan dari limbah cair kelapa sawit. Sebuah peluang besar dan menantang untuk mampu mengolah limbah sawit tersebut menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Limbah tersebut perlu penanganan segera sehingga konsentrasi pencemaran lingkungan bisa dikurangi dan diatasi. Dengan teknologi pirolisis kontinyu limbah padat industri sawit tersebut akan diubah menjadi produk arang, arang aktif, biooil dan syngas. Arang memiliki harga pasaran internasional antara 200-400 US$/ton sedangkan arang aktif seharga 1000-7000 US$/ton tergantung gradenya. Tandan kosong dan serabut akan diproses menjadi arang sedangkan cangkang sawit akan diproses menjadi arang aktif. Dengan konversi bahan mentah menjadi produk dengan teknologi pirolisis kontinyu sekitar 30%, Anda bisa menghitung berapa besar keuntungan yang didapat. Bahan baku yang bernilai ekonomi rendah atau bahkan tidak berharga akan menjadi sumber income yang besar. Biooil dan syngas akan digunakan untuk intern proses dan mensuplai panas dan listrik di pabrik kelapa sawit.